BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Peranan ulama yang berasal dari dunia
Melayu yang menimba ilmu dan menetap di Mekah dan memiliki murid-murid yang
berguru kepadanya, sudah berjalan begitu lama dan bersambung dari pada satu
generasi ke generasi berikutnya. Sebagai salah satu contoh ulama besar yang
menetap di Mekkah untuk dan membawa pengaruh besar bagi Indonesia adalah
Ahmad Khatib Minangkabawy. Syekh Ahmad Khatib tidak saja mengangkat citra
bangsa Indonesia di mata dunia dalam bidang ilmu ke-Islaman, tetapi tidak
sedikit pula mendidik murid-muridnya yang menjadi ulama berpengaruh dan
berkontribusi besar bagi Indonesia.
Ahmad Khatib al-Minangkabawi secara
tidak langsung memberi peranan serta kontribusi pembaharuan didalam dunia islam
khususnya di Indonesia, banyak gagasan/ pembaharuan yang dilakukan ulama
tersebut yang banyak berkembang di Indonesia. Dan juga banyak dari
murid-muridnya yang menjadi tokoh sentral dan penting yang tersebar di beberapa
daerah di Indonesia.
B. RUMUSAN
MASALAH
Dari latar belakang dapat di identifikasi rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Siapa itu Ahmad
khatib?
2. Bagaimana
pemikiran Ahmad Khatib di Indonesia
C. TUJUAN DAN
MANFAAT
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka pembuatan makalah ini bertujuan
untuk sebagai berikut:
1. Mengetahui siapa
itu Ahamd Khatib
2. Mengetahui
bagaiaman pemikiran Ahmad khatib
3. Mengetahui karya
karya beliau
Manfaat dalam menulis makalah ini sebagai berikut :
1. Sebagai bahan
untuk menambah ilmupengetahuan bagi para pembaca
2. Sebagai bahan
referensi penulis selanjutnya untuk dapat melengkapi kekurangan yang terdapat
dalam makalah.
BAB 11
PEMBAHASAN
1.
1. Biografi Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabaw
Ahmad Khatib bin
Latif bin Abdurrahman bin Imam Abdullah bin Tuanku Abdul Aziz atau lebihh
terkenal dengan nama Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi adalah putera dari
Engku Abdurrahman Khatib nagari dan
ibunya bernama Limbak Urai. Ahmad Khatib dilahirkan tanggal 6 Zulhijah1276 H
(1860) dan berangkat ke Mekkah dalam usia 11 tahun (1287-1871 M), bersama
ayahnya sendiri Khatib Nagari, untuk menunaikan ibadah Haji dan mendalami ilmu
agam dari alim ulam yang berda di Mekah. Ilmu pengtahuan utama yang di
perdalamnya adalah Ilmu Fiqhi, disamping juga mempelajari ilmu-ilmu agama
lainnya dan ilmu-ilmu umum seperti Ilmu Falak, Hisab, Aljabar dan lainnya.
Aliran Fiqhi yang dipelajari dan di anutnyy adalah Mazhab Syafi’i. Diantara
guru-gurunya adalah Ahmad Zaid Dahlan, Said Bakri Syatta dan Syekh Yahya Kabli.
[1]
Ahmad Khatib
mempunyai budi yang baik dan luas ilmunya dan disayangi oleh orang, beliau
disayangi oleh hartawan Mekkah bernama Syekh Shaleh Kurdi, saudagar dan penjual
kitab-kitab agama. Syekh Shaleh berasal dari keturunan Kurdi. Dan Mazhab orang
Kurdi adalah Syafi’i sebagai Mazhab orang Indonesia juga. Diterimanya Ahmad
Khatib menjadi menantunya, dinikahkannya dengan anaknya Khadijah. Setelah
khadijah meninggal rupanya tidak cukup hanya hanya seorang puteri saja yang di
amanahkan Shaleh Kurdi untuk dikawinkan dengan Ahmad Khatib, bahkan puterinya
yang kedua juga dikawinkan dengan Ahmad Khatib . Dalam istilah Minangkabau hal
seperti semacam itu disebut “mengganti tikar”. Dari istrinya yang pertama
beliau mendapatkan seorang putera bernama Abdul Karim dan dari isterinya yang
kedua dikarunia tiga orang anak yaitu Abdul Malik, Abdul Hamid, dan Siti
Khadijah. Ahmad Khatib tidak pernah berpoligami, dan tidak pernah kawin lagi
setelah isterinya yang kedua meninggal dunia.[2]
Kesungguhan dan kecerdasannya dalam
menuntut ilmu ditunjang oleh fasilitas yang diberikan oleh mertanya membuat proses
pembentukan keulamaan Ahmad Khatib berjalan dengan cepat. Kemampuan dan peluang
yang diperolehnya melalui perantara mertuanya yang yang berasal dari keluarga
Arab terpandang yang memiliki akses komunikasi dengan pihak kerajaan juga
memberikan peluang bagi Ahmad Khatib untuk memperoleh kehormatan menjadi imam
Mazhab Syafi’i, dengan status imam Mazhabnya tersebut Ahmad Khatib memiliki hak
istimewa diantaranya beliau diizinkan untuk mengajar di Masjid al-Haram, sebuah
tempat keramat yang tidak semua orang dapat memperolehnya.
Meskipun beliau dan menetap di
Mekkah, akan tetapi sumbangannya terhadap perkembanagn dakwah di Indonesia
tetap mengalir melalui tulisannya, baik dikirim maupun di bawa jama’ah haji
yang pulang dari Mekkah. Ahmad Khatib juga sangat berjasa dalam mendidik
murid-murid yang datang dari Indonesia yang belajar kepadanya, sebahagian dari
mereka menjadi ulama dan tokoh dakwaj terkemuka di Indonesia. [3]
2.
2. Pemikiran Syekh Ahmad Khatub
a. Ahmad
Khatib Minangkabau menentang Tarekat
Syeikh Ahmad Khatib banyak menentang
praktek tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyyah di Minangkabau, Sumatera
Barat. Menurutnya ke dalam tarekat naqsyabandi telah masuk bid’ah yang
tidak terdapat pada masa Rasul dan para sahabat dan tidak pernah diamalkan oleh
imam mahzab yang empat. seperti menghadirkan gambar/rupa guru dalam ingatan
ketika mulai suluk – sebagai perantara kepada Tuhan. Beliau mengatakan
perbuatan serupa itu sama saja dengan penyembahan berhala yang dilakukan oleh
orang-orang musyrik. karena rupa guru yang dihadirkan dan berhala-berhala yang
dibuat oleh manusia tidak memberikan manfaat dan mudharat kepada manusia.
Penolakan Syaikh Ahmad Khatib terhadap praktek tarekat naqsyabandi di
Minangkabau di ungkapkan dalam buku yang berjudul “Izhharu Zaghlil Kazibin
fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin” yang artinya menjelaskan kekeliruan para
pendusta.[4]
b.
Kritik terhadap Adat Minangkabau
Syeikh Ahmad Khatib banyak menentang
praktek-praktek adat dan tingkah laku yang bertentangan dengan ajaran Islam,
dan beliau menolak hukum waris adat Minangkabau yang menganut Sistem
Matrilinieal dimana adat masyarakat yang mengatur alur/garis keturunan berasal
dari pihak ibu. Menurut adat minangkabau harta pusaka diwariskan kepada
kemenakan, bukan kepada anak sesuai dengan ajaran Islam. sedangakan keman kan
laki-laki hanya menjadi pembantu saja dalam menggarap dalam memelihara harta
pusaka itu. Ia hanya memperoleh sebagian hasil sebagai upah pekerjaannya.
Padahal menurut ajaran Islam, harta pusaka diwariskan kepada anak sendiri
dengan ketentuan anak laki-laki memperoleh dua bagian daripada anak perempuan.
Jadi jelas adanya perbedaan/pertentangan antara peraturan adat dengan peraturan
agama dalam hal warisan di minangkabau. [5]
Pengetahuan agama yang diperoleh
Syaikh Ahmad Khatib telah membentuk sikapnya yang tegas terhadap adat-istiadat
minangkabau yang berdasarkan sistem kekeluargaan Matriarkat itu. Beliau sangat
menentang adat, terutama dalam hal warisan. Tantangannya terhadap adat ini
bahkan lebih keras daripada tantangannya terhadap tarekat naqsyabandi.
c. Ahli Ilmu
Hitung dan Hisab
Selain ahli dalam bidang fiqih,
Ahmad Khatib Minangkabau juga ahli dalam bidang ilmu hitung dan hisab. Salah
satu bukunya dalam bidang ilmu hitung adalah Rauda al-khusab fi ilmi
al-hisab, yang membahas tentang ilmu hitung dan ilmu ukur, terutama sebagai
ilmu Bantu dalam hukum Islam, sedangkan kitabnya yang berjudul al-Jawahir nakkiyah
fi a’mal al-Jaibiyah merupakan buku pedoman untuk pengetahuan tentang
pertanggal.[6]
3.
3. Karya Ahmad Khatib
Sebagai ulama besar Melayu yang
bermukim di Mekah, Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi telah menulis beberapa
karya, baik berbahasa Melayu maupun berbahasa Arab, di antaranya:
1.
Al-Jauharun Naqiyah fil A‘mali
Jaibiyah (bahasa
Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah, 1309 H.
2.
Hasyiyatun Nafahat ‘ala Syarhil
Waraqat (bahasa
Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah Darul Kutub al-‘Arabiyah
al-Kubra, 1332 H.
3.
Raudhatul
Hussab fi A‘mali ‘Ilmil Hisab (bahasa Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah
al-Maimuniyah, 1310 H.
4.
Ad-Da‘il Masmu‘
fir Raddi ‘ala man Yuritsul Ikhwah wa Auladil Akhawat ma‘a Wujudil Ushl wal
Furu‘ (bahasa Melayu). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah,
1311 H.
Al-Manhajul Masyru‘ Tarjamah Kitab Ad-Da‘il Masmu‘ (bahasa
Melayu). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah, 1311 H.
Murid ahmad khattib
Diantara murid-murid beliau yang
kembali ke tanah air ialah Tuan
HajiMuhammad Nur yang kemudian menjadi Mufti Kerajaan Langkat, Tuan Syekh Hasan Masum Imam Paduka Tuan
dan Mufti Kerajaan Deli. Ketiganya adalah dari daerah Sumatera Utara dan
Aceh.Banayk pula diantara murid-muridnya berasal dan kembali ke daerah
Palembang, Jambi, Pontianak, Banjar Masin, Tanah Jawa dan Madura.K.H Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, K.H Ibrahim ketua kedua Muhammadiyah.[7]
Yang pulang ke Minangkabau adalah : Syek Muhammad Jamil Jambek (Bukittinggi), Syekh Muhammad Thaib Umar (Tanjung
Sungayang), Syekh Abdullah Ahmad
(mulanya di Padang Panjang, kemudian pindah ke Padang), dan Syekh Abdul Karim Amrullah (Maninjau)
yang ke empat-empatnya terkenal dengan julukan EMPAT SERANGKAI, baik karena seiring dalam kegiatan dakwah, maupun
juga banyak sepaham dalam aliran dan pembahasan pengajian.Disamping itu Syekh
Sulaiman Ar Rasuly (IV Angkat – Canduang) dan Syekh Muhammad Jamil Jaho (Padang
Panjang) yang keduanya terkenal sebagai pendiri dan pengasuh Madrasah-Madrasah
yang tergabung dalam PERTI, dan yang dalam banyak hal berbeda dengan Empat Serangkai tersebut sebelumnya,
juga merupakan murid dari Ahmad Khatib
yang berasal dari dan pulang ke Minangkabau dan masih banyak murid Syekh Ahmad
Khatib yang lainnya .[8]
BAB 111
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan makalah ini dapat kita simpulkan yaitu Ahmad
Khatib Minang Kabau dilahirkan di kota Bukit tinggi, Sumatra Barat.. Ahmad
Khatib lahir tahun 1860 M. Ayahnya bernama Abdul Latif. Ibu Ahamad Khatib
adalah Limbak Urai. Dilihat dari keturunan ayah dan ibunya, Ahmad Khatib Minang
Kabau terhitung datang dari keluarga yang terpandang di Minang Kabau pada
zamanya.
Pembaharuan Pemikiran Islam yang dilakukan Ahmad Khatib
Minang Kabau meliputi berbagai bidang yaitu :
1. Menentang tarekat
Naqsyabandiyah,
2. Kritik terhadap Adat Minang
Kabau dalam pewarisan,
3. Menjadi Ahli Ilmu hitung
dan Hisab.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Malik bin Abdul Karim, Ayahku : Riwayat Hidup Dr.
Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera,( Jakarta : Umminda,
1982).
Abuddin Nata,tokoh tokoh pembaharuan pendidikan islam di
indonesia,( jakarta: raja grafindo persada,2005).
Dandang A. Dahlan,cahaya dan perajut persatuan,(
adicita,2001).
[1] Abdul Malik bin Abdul Karim
Amrullah, Ayahku : Riwayat Hidup Dr. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum
Agama di Sumatera, 1982, h. 271.
[2] Ibid 273
[3] Ibid 274
[5] Ibid 37
[6] Ibid 45
[7] Abauddin nata, tokoh tokoh
pembaharuan pendidikan islam di indonesia, 2005, hal 11
[8] Dandang A.Dahlan , cahaya ... hal
82
No comments:
Post a Comment