one piece

Sunday, October 7, 2018

ulama besar indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Peran ulama atau kiai pada masyarakat indonesia membuat posisi para ulama dan kiai sangat penting. Sehingga masyarakat sering menjadikan kiai atau ulama sebagai rujukan dalam masalah sehari-hari,seperti urusan ibadah,pekerjaan,bahkan urusan rumah tangga. Didalam masyarakat indonesia yang kebanyakan menganut agama islam, kiai merupakan salah satu elit yang mempunyai kedudukan sangat terhormat dan berpengaruh besar pada perkembangan masyarakat tersebut, kiai menjadi salah satu elit strategi dalam masyarakat karena ketokohannya sebagai figur yang memunyai pengetahuan luas dan mendalam mengenai ajaran islam.
Maka tidak mengherankan apabila kiai atau ulama menjadi sumber rujukan dari berbagai masalah keagamaan mupun masalah sosial politik, tetapi juga hampir dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Pada titik inilah kita dapat melihat peran strategis kiai, terutama dalam aspek sosial politik di indonesia. Dari latar belakang tersebut, penulis dalam makalah ini akan Menjelaskan Para Ulama Yang Besar Di Indonesia.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat di identifikasi rumusan masalah sebagai berikut
1.      Apa peran penting para ulama di indonesia?
2.      Siapa saja tokoh-tokoh para ulama di indonesia?
3.      Bagaimana proses atau cara para ulama mengajarkan islam pada masyarakat?

C.    Tujuan dan Manfat
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka pembuatan makalah ini bertujuan untuk sebagi berikut:
1.      Mengetahui peran apa yang di lakukan para ulama untuk masyarakat indonesia
2.      Mengetahui siapa tokoh para ulama tersebut
3.      Mengetahui proses ulama mengajarkan islam di indonesia
Manfaat dalam penulisan makalah ini ialah sebagai berikut :
1.      Sebagai bahan untuk menambah ilmu pengentahuan bagi para pembaca
2.      Sebagai bahan referensi penulis selanjutnya untuk dapat melengkapi kekurangan yang terdapat dalam makalah ini.



















BAB II
                                                             PEMBAHASAN
MENJELASKAN PARA ULAMA YANG BESAR DI INDONESIA

1.      SYAIKH ABDULLAH AHMAD
Perkembangan pendidikan islam di indonesia dimulai dengan tahap yang sangat sederhana dan bersifat lokal. Pendidikan dilaksanakan di lembaga lembaga tradisional surau di sumatra barat, meunasah di aceh. Setelah itu muncullah lembaga pendidikan pesantren yang di tandai dengan adanya pondok,masjid,kitab kuning,kiai dan santri. Abdullah ahmad ialah tokoh pembaharuan pendidikan islam dari sumatra barat yang pertama kali memperkenalkan sistem madrasah yaitu model pendidikan agama yang menggunakan kelas dan dilengkai meja,kursi,papan tulis dan ijazah. Melalui madrasah yang di pimpinnya, umat islam indonesia memiliki kesadaran tentang pentingnya membangun dunia islam yang lebih maju dan menjanjikan.
A.    Biografi Abdullah Ahmad
Ia lahir di padang panjang pada tahun 1878, ayahnya bernama Ahmad yang dikenal sebagai ulama dan juga pedagang kecil. Pendidikan Abdullah dimulai dengan mempelajari agama islam pada orang tuanya sendiri, serta beberapa orang guru yang ada didaerahnya. Kemudian ia dimasukkan kesekolah kelas dua di padang panjang. Karena ayahnya seorang ulama yang berpikir modern, ayahnya berharap supaya abdullah ahmad menjadi orang terpelajar dan memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang agama. Pada usia 17 tahun (1895) ia berangkat ke makkah untuk menunaikan ibadah haji sambil menuntun ilmu agam islam pada Syaikh Ahmad Khatib, seorang ulama asal minangkabau yang bermukim di makkah serta kepada beberapa ulama lainnya di makkah. Abdullah ahmad pergi menuntut ilmu ke makkah karena pada saat itu di minangkabau belum ada sekolah yang baik sementar di makkah terkenal sebagai pusat penyebaraan agam islam dan juga di makkah banyak orang dari minangkabu bermukim disana.[1]
 Karena kerja keras dan ketekunannya dalam mempelajari pengetahuan agama di makkah ia pernah diangkat sebagai asisten dari Syaikh Ahmad khatib. Selanjutnya pada tahun 1899, Abdullah Ahmad kembali ke minangkabau dan mulai mengajar di surau jembatan besi padang panjang di daerahnya ini ia mulai mengajar dengan menggunakan cara trdisional dengan sistem halaqah.
Sekitar tahun 1906 Abdullah Ahmad pindah ke padang untuk menggantikan pamannya yang baru meninggal sebagai guru. Pada tahun selanjutnya Abdullah Ahmad mengubah sistem pengajaran trdisionalnya itu dengan sistem sekolah agama ( madrasah) yang diberi nama adabiyah school. Penamaan ini mungkin sekali dimaksudkan sebagai simbol kebangkitan ilmu pengetahuan dalam posisinya sebagai pilar utama kebangkitan perdaban islam, dan mungkin pila diilhami oleh hadis Nabi Muhammad Saw.
B.     Pemikiran Pendidikan
Gagasan pemikiran Abdullah Ahmad dalam  bidang pendidikan tersebut antara lain sebagai berikut. [2]
1.       Tentang pemerataan pendidikan , sebagaimana diketahui bahw beliau hidup pada masa belanda yang menerapkan prinsip memberikaan perlakuan yang berbeda terhadap rakyat jajahannya,khususnya tentang dalm bidang pendidikan. Pengajaraan pada zaman belanda juga tidak dapat memberi kepuasan pada rakyat. Pengajaran pemerintah yang seolah-olah dijadikan contoh dan umumnya dianggap sebagai usaha untuk menjunjung derajat kita,ternyata tak dapat memberi penghidupan pada kita, yang sepadan dengan cita-cita sebagai rakyat yang berusaha akan mendapat keselamatan. Hingga kini nasib kita semata-mata hanya memberi manfaat kepada bangsa lain. Pengajaran yang diterima dari pemerintah itu pertama kali sangat kurang, kedua kalinya sangat mengecewakan sebagai alat pendidikan rakyat.
2.      Tentang kurikulum,  pada tahun 1915 sekolah adabiah diubah menjadi sekolah HIS ( hollandsch inlandsche school ) adabiah,  itu lah sekolah HIS yang pertama di minangkabau yang memasuki pelajaran agama dalam rencana pengajarannya[3]. Kecuali diajarkan pelajaran agama dan Al-Quran sebagai mata pelajaran yang wajib, di HIS tersebut diajarkan pula pengetahuan umum. Inilah yang membedakan HIS yang diselenggarakan belanda dan HIS yang diselenggarakan oleh Abdullah Ahmad. Rencana pelajaran tersebut dijadikan sebagai kerangka kerja sistemtis dalam suatu kegiatan pengajaran modern. Penerapan konsep tersebut tidak terlepas dari keterlibatan aktif Abdullah Ahmad sebagai tokoh yang berpengaruh pada sekolah.
3.      Tentang dana pendidikan, dengan adanya perubahan tersebut sekolah tersebut mendapatkan subsidi dari pemerintah kolonil  berupa dana dan tenaga guru sebanyak tiga orang belanda, seorang sebagai kepala sekolah dan dua lagi sebagi guru bisa. Hal tersebut memperlihatkan kecerdasaan Abdullah yang telah berhasil melakukan dua hal yaitu:
·         Ia telah berhasil menghilangkan kecurigaan pemerintah belanda terhadap umat islam
·         Ia telah berhasil mengupayakan adanya dana alternatif bagi pendidikan islam dan dana tersebut justru datang dari pemerintahan belanda sendiri. [4]
4.      Tentang kemodernan, kemodernan ini antara lain ditandai oleh sikap keterbukaan yang objektif dan kritis. Madrasah adabiah membolehkan para siswa yang berasal dari berbagai golongan untuk belajar di lembaga tersebut dengan syarat beragama islam. Ciri kemodernan lainnya dari sekolah tersebut adalah karena dipilhnya guru-guru yang berbobot serta dengan bobot para guru yang mengajar di belanda. [5]
5.      Tentang metode pengajaran, metode debating club adalah metode yang diterapkan Abdullah, metode itu sekarng dikenal dengan nama metode diskusi yang mana metode tersebut memberikan kesempatan pada murid untuk bertanya dan berdialog secara terbuka tentang berbagai hal menyangkut masalah agama yang pada saat itu dianggap sangat tabu dan kurang dianggap beradab apabila dipertanyakan . selanjutnya beliau juga mengajukan metode pendidikan melalui pemberian hadiah dan hukuman sebagaimana yang berkembang saat ini.
Selama hidupnya , Abdullah banyak berkiprah dalam kegiatan pendidikan islam dengan memberikan ide-ide baru serta mempraktekkannya dalam lembaga pendidikan yang didiriknnya. Ide-ide praksis pendidikannya itu tampak di pengruhi oleh perkembangan masyrakat pada waktu itu yaitu masyarakat islam yang tradisional dan terbelakang di satu pihak, dan kemajuan yang telh dicapai oleh bangsa lain, khususnya penjajah belanda.

2.      K.H. AHMAD DAHLAN
K.H.Ahmad Dahlan adalah tokoh pembaharuan pendidikan islam dari jawa yang berupaya menjawab permasalahan umat tersebut, dialah tokoh yang berusaha memasukkan pendidikan umum kedalam kurikulum madrasah dan memasukkan pendidikan agama kedalam lembaga pendidikan umum.  Melalui pendidikan, K.H. Ahamad dahlan menginginkan agar umut dan bangsa indonesia memiliki jiwa kebangsaan dan cinta kepada tanah air. Dialah tokoh yang telah berhasil mengembangkan dan menyebarluaskan gagasan pendidikan moderen keseluruh pelosok tanah air melalui organisasi muhammadiyah yang didirikan dan hingga kini makin menunjukkan eksistensi secara fungsional.

A.    Biografi Ahmad Dahlan (1869-1923)
Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869 M dengan nama kecilnya Muhammad Darwis, putra dari K.H Abu Bakar Bin Kyai Sulaiman, khatib di Masjid besar (Jami’) kesultanan Yogyakarta. Ibunya adalah putri Haji Ibrahim, seorang penghulu. Setelah beliau menamatkan pendidikan dasarnya di suatu Madrasah dalam bidang Nahwu, Fiqih dan Tafsir di Yogyakarta, beliau pergi ke Makkah pada tahun 1890 dan beliau menuntut ilmu disana selama satu tahun. Sekitar tahun 1903 beliau mengunjungi kembali ke Makkah dan kemudian menetap di sana 2 tahun.[6]
Beliau adalah seorang yang alim luas ilmu pengetahuanya dan tiada jemu-jemunya beliau menambah ilmu dan pengalamanya. Dimana saja ada kesempatan sambil menambah atau mencocokan ilmu yang telah diperolehnya. Observation lembaga pernah beliau datangi untuk mencocokan tentang ilmu hisab. Beliau ada keahlian dalam ilmu itu. Perantauanya keluar pulau jawa pernah sampai ke Medan. Pondok pesantren yang besar-besar di Jawa pada waktu itu banyak dikunjungi.[7]
Cita-cita K.H Ahmad Dahlan sebagai seorang ulama adalah tegas, beliau hendak memperbaiki masyarakat Indonesia berlandaskan cita-cita agama Islam. Usaha-usahanya ditujukan hidup beragama, keyakinan beliau ialah bahwa untuk membangun masyarakat bangsa harus terlebih dahulu dibangun semangat bangsa. Ahmad Dahlan meninggal pada Tahun 1923 M, tanggal 23 Februari dalam usia 55 Tahun dengan meninggalkan sebuah organisasi Islam yang cukup besar dan di segani karena ketegaranya.[8]


B.     Pemikiran Pendidikan Ahmad Dahlan
Beliau mengatakan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat islam dari berpikir statis menuju pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Umat islam dididik agar cerdas, kritis, dan memiliki daya analisis yang tajam dalam membaca dinamika kehidupan yang akan datang. Adapun kunci bagi kemajuan umat islam adalah kembali pada Al-Qur’an dan hadits, mengarahkan umat islam pada pemahaman ajaran islam yang komprehensif dan menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Pendidikan islam hendaknya menjadi media dan mampu mengembangkan al-ruh dan al-akal. Hal ini disebabkan di alam ini ada dua dimensi yaitu dimensi fisika dan metafisika. Manusia adalah integrasi dari dua dimensi yaitu dimensi ruh dan jasad. Maka aktivitas pendidikan harus mampu mengembangkan dimensi tersebut. Dan perlunya pengkajian ilmu pengetahuan secara langsung sesuai prinsip-prinsip Al-Qur’an dan Hadits.
Ahmad Dahlan melihat bahwa problem epistimologi pendidikan islam tradisional disebabkan karena ideologi ilmiahnya terbatas pada dimensi religius yang membatasi pada pengkajian kitab-kitab  klasik, khususnya dalam madzhab syafi’i. Sikap ilmiah yang demikian mengakibatkan umat islam tidak mampu menganalisa ilmu pengetahuan secara kritis sehingga kurang mampu berkompetisi secara produktif dan kreatif terhadap perkembangan peradaban kekinian.[9]
Menurut Ahmad Dahlan, pendidikan islam hendaknya diarahkan untuk membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang demi kemajuan masyarakatnya. Untuk mencapai tujuan ini, hendaknya pendidikan islam mengakomodasi berbagai ilmu pengetahuan, baik umum maupun agama, untuk mempertajam intelektualitas dan memperkokoh spiritualitas peserta didik. Upaya ini akan terwujud jika proses pendidikan bersifat integral dan epistimologi. Islam hendaknya dijadikan landasan metodologis dalam kurikulum dan bentuk pendidikan yang dilaksanakan. Menurut Ahmad Dahlan, materi pendidikan adalah pengajaran Al-Qur’an dan hadits, membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, dan menggambar. Sistem pendidikan yang dipakai beliau adalah klasikal, beliau ingin menggabungkan sistem pendidikan kolonial Belanda dengan sistem pendidikan tradisional (pesantren) secara integral. [10]
Materi Al-Qur’an dan hadits yaitu ibadah, persamaan derajat, fungsi perbuatan manusia dalam menentukan nasibnya, musyawarah, pembuktian kebenaran Al-Qur’an dan hadits menurut akal, kerjasama antara agama-kebudayaan, kemajuan peradaban, hukum kausalitas perubahan, nafsu dan kehendak, demokratisasi dan liberalisasi, kebebasan berpikir, dinamika kehidupan dan peranannya, dan akhlak. Komitmen Ahmad Dahlan terhadap pendidikan agama adalah sangat kuat. Maka dari itu, beliau masuk orgnasisasi Budi Oetomo pada tahun 1909, agar mendapatkan peluang mengajarkan pendidikan agama kepada para anggotanya. Komitmen terhadap pendidikan selanjutnya menjadi salah satu ciri khas organisasi yang didirikannya pada tahun 1912 yaitu Muhammadiyah.[11]
Pandangan Ahmad Dahlan dalam pendidikan dapat dilihat dalam kegiatan pendidikan yang dilaksanakan oleh Muhammadiyah. Dalam bidang pendidikan Muhammadiyah melanjutkan model sekolah yang digabungkan dengan sistem pendidikan gubernemen. Disamping itu, Muhammadiyah mendirikan sekolah yang agamis yaitu madrasah diniyah di Minangkabau untuk memperbaiki pengajian Al-Qur’an yang tradisional.



C.         Gerakan Ahmad Dahlan
a.       Pembaharuan di bidang lembaga pendidikan, yang semula sistem pesantren  menjadi sistem sekolah.
b.      Beliau memasukkan pelajaran umum ke sekolah-sekolah agama atau madrasah.
c.       Perubahan pada metode pengajaran sosrogan menjadi metode yang bervariasi.[12]

Pada tanggal 8 Desember 1912, Muhammadiyah  mendirikan pondok Muhammadiyah sebagai sekolah pendidikan guru agama. Turut mempercepat pendirian sekolah baru dengan model yang baru ini, pada saat yang sama dalam masyarakat sudah mulai tumbuh kesadaran dan kebutuhan akan ilmu pengetahuan umum dan kemudian Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah di yogyakarta.[13]
Muhammadiyah  berhasil melanjutkan model pembaruan pendidikan dikarenakan lingkungan sosial yang dihadapi adalah terbatas pada pegawai, guru maupun pedagang. Kelompok ini banyak menguasai perusahaan percetakan yang secara ekonomis sangat penting di masyarakat. Oleh karena itu, Muhammadiyah dengan model pendidikan barat ditambah dengan pendidikan agama, mendapatkan hasil yang baik dalam kalangan ini. Diantara sekolah-sekolah yang tertua dan besar yaitu:
a.       Kweekschool Muhammadiyah, di Yogyakarta
b.      Mu’allimin Muhammadiyah, di Solo, Yogyakarta dan Jakarta
c.       Zu’ama/Za’imat di Yogyakarta
d.      Kulliyah Muballigh/Muballigat di Padang Panjang Sumatera Tengah
e.       Tabligh School di Yogyakarta.







3.      ABD AL-RA’UF AL-SINKILI

A.    Biografi Abd Al-Rauf Al-Sinkili
Syeikh Abd Rauf yang lebih dikenal dengan nama julukan syah kuala, beliau lahir disingkil diperkirakan sekitar tahun 1615 M. Seperti biasanya orang islam di waktu kecil mendapat pendidikan pertamanya dari orang tua nya sendiri, begitu juga dengan Al Singkili. Apalagi ayahnya adalah seorang ulama yang memiliki dayah sendiri disimpang kanan. Menurut A. Hasjmy setelah menyelesaikan pelajaran di dayah yang dipimpinnya, orang tuanya Al-singkili melanjutkan pendidikan pada sebuah dayah tinggi di Barus yang di piumin oleh hamzah fansuri. Selanjutnya belajar pada syeikh syamsu al-Din al-sumatrani diperkirakan dayahnya di wilayah pase. [14]Terakhir beliau belajar di timur tengah,seperti dhuha ( doha ), Qatar, Yaman, Jeddah dan akhirnya mekkah dan madinah selama 19 tahun. Al singkili merupakan seorang penulis yang produktif. Kendati pun dia sibuk dengan tugas mufti kerajaan, tetapi dia sempat menulis beberapa kitab, ada kurang lebih 23 kitab yang di tulis oleh Al-singkili seperti bidang Fiqh,tafsir,hadits,ilmu kalam dan tasawuf. [15]


B.     Pemikiran Al-Sinkili
Aliran tasauf yang dikembangkan oleh syeh Abd rauf sepulangnya dari negara arab dalam perkembangannya di indonesia menghadapi dua kutub aliran tasauf yang berbeda sebagai warisan ulama terdahulu hamzah fansuri,syamsyudin al sumatrani dan nurudin arraniry, dengan kondisi demikian tarekat syattariah menjadi penyejuk bagi perbedaan yang tajam antara dua aliran wahdatul wujud dan syuhuduyah tersebut. Pendekatan yang dilakukan oleh abd rauf adalah mendamaikan antara paham-paham yang bertentangan, hal itu sejalan dengan kecendrungan jaringan ulama abad ke 17 M yang berupaya saling mendekatkan antara ulama yang berorientasi pada syariat dengan para sufi yng berorientasi pada makrifat.[16]
Dari ini ajaran tasawufnya mirip dengan syamsuddin al-sumatrani dan nuruddin arraniri, yaitu menganut paham satu-satunya wujud hakiki yakni Allah. Sedangkan alam ciptaannya bukanlah merupakan wujud hakiki tetapi bayang dari yang hakiki. Abd rauf juga mempunyai pemikiran tentang zikir. Zikir dalam pandangan Abd rauf merupakan suatu usaha untuk melepaskan diri dari sifat lalai dan lupa. Dengan zikir inilah hati selalu ingat Allah. Tujuan zikir ialah mencapai fana ( tidak ada wujud selain wujud Allah ), berarti wujud hati yang berzikir dekat dengan wujudnya. Ajaran tasawuf abd rauf yang lain adalh bertalian dengan martabat perwujudan [17]. Menurutnya ada tiga martabat perwujudan yaitu:
·         Martabat ahadiyah atau la ta’ayyun, yang mana alam pada waktu itu masih merupakan hakikat ghaib yang masih berada didalam ilmu tuhan.
·         Martabat wahdah atau ta’ayyun awwal yang potensi bagi terciptanya alam.
·         Martabat wahdiyyah atau ta’ayyun tsani dan dari sini lah alam tercipta.

Rekonsiliasi syarih dan tasawuh yang di kembangkan oleh abd rauf dapat diamati dari tiga pilar corak pemikirannya dalam bidang tasawuf, ketiga pokok pemikiran tersebut adalah sebagai berikut :
·         Ketuhanan dan hubungan dengan alam, syeh Abd rauf menganut paham satu-satunya yang wujud hakiki adalah Allah, Alam ciptaannya adalah wujud bayangan nya yakni bayangan dari wujud hakiki.
·         Insan kamil adalah sosok manusia ideal. Abd rauf memahami insan kamil sebagai kombinasi dari paham al-Ghazali, al-Hallaj dan paham martabat tujuan yng telah ditulis oleh syeh Abdullah al-Burhanpuro dalam kitab Tuhfah almursalah ila ruhin nabi.
·         Thariqat ( jalan kepada Allah ), kecendrungan rekonsilasi yang dilakukan oleh syeh Abd rauf sangat kentara sekali ketika ia menjelaskan tauhid dan zikir sejalan dengan kepatuhan total pada syariat.

     Abd rauf berpendapat bahwa zikir penting bagi orang yang menempuh jalan tasawuf diman dasar tsawuf adalh dzikir yang berfungsi mendisiplinkn kerohanian islam.  Dzikir menurut beliau bukanlah membayangkan kehadiran gambar tuhan melainkan melatih memusatkan diri. Disamping itu Abd rauf berpendapat bahwa tauhid adalah pusat dari ajaran tasawuh. [18]

     Sepanjang karirnya, beliau banyak dapat perlindungan dari para sultanah, dia menulis sekitar 22 karya yang membahas tentang fikih,tafsir,kalam,dan tasawuf. Dia menulis dalam bahasa Melayu maupun Arab,beliau lebih suka menulis dalam bahasa Arab dari pada bahasa melayu sebab dia menyadari bahasa melayu tidak terlalu bagus karna kepergiannya ke Arab. Karna itu beliau di bantu oleh dua guru bahasa melayu untuk menulis karya-karya nya dalam bahasa melayu sumatera. Dalam tulisannya menunjukkan bahwa perhatian utamanya adalah rekonsilasi antara syariat dan tasawuf. Karna itu lebih menuju ke arah zhahir dan bathin.[19]




















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan makalah ini bisa dapat kita simpulkan yaitu Perkembangan pendidikan islam di indonesia dimulai dengan tahap yang sangat sederhana dan bersifat lokal. Pendidikan dilaksanakan di lembaga lembaga tradisional surau di sumatra barat, meunasah di aceh. Disini menjelskan tentang para ulama ulama besar yang ada di indonesia seperti Abdullah Ahmad, Ahmad dahlan dan Abd rauf,. Seperti yang kita ketahui Abdullah Ahmad dan Ahmad dahlan berperan penting dalam pembahruan tentang pendidikn islam sedangkan Abd Rauf sangat berperan penting tentang pemikiran tasawuf. Yang mana tokoh tersebut berperan penting dalam kemajuan umat islam yang ada di indonesi.





















DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, tokoh tokoh pembaharuan pendidikan islam di indonesia, ( jakarta:raja grafindo persada,2005).
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (jakarta: kencana prenda media group,2013).
Hasbi Amiruddin, perjuangan ulama aceh di tengah konflik, ( yogyakarta : ceninnets press, 2004 ).
Abu su’ud, islamologi, ( jakarta: rineka cipta, 2003)
Sholechul aziz, sejarah lengkap pahlawan indonesia, ( jakarta: kunci kom, 2003)




.















[1]Abuddin nata, tokoh tokoh pembaharuan pendidikan islam di indonesia,2005,hal 11
[2] Abuddin nata,tokoh-tokoh pembaharuan pendidikan islam di indonesia,2005,hal 15
[3] Ibid hal 19
[4] Ibid hal 20
[5] Ibid hal 21
[6]Sholechul aziz,sejarah lengkap pahlawan indonesia, 2005,hal 22
[7] Abu su’ud,islamologi,2003,hal 250
[8] Ibid 252
[9]Ibid 253
[10]Ibid 255
[11]Ibid 256
[12]Ibid 257
[13]Abuddin nata,tokoh-tokoh pembaharuan pendidikan islam di indonesia,2005,hal 104
[14]Hasbi amiruddin,perjuangan ulama aceh ditengah konflik, 2004,hal 29
[15] Ibid 30
[16]Ibid 31
[17] Ibid hal 33
[18] Ibid hal 34
[19]Azyumardi azhar, jaringan ulama timur tengah dan kepulauan nusantara abad XVII dan XVII, 2013, hal 255