BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Peran
ulama atau kiai pada masyarakat indonesia membuat posisi para ulama dan kiai
sangat penting. Sehingga masyarakat sering menjadikan kiai atau ulama sebagai
rujukan dalam masalah sehari-hari,seperti urusan ibadah,pekerjaan,bahkan urusan
rumah tangga. Didalam masyarakat indonesia yang kebanyakan menganut agama
islam, kiai merupakan salah satu elit yang mempunyai kedudukan sangat terhormat
dan berpengaruh besar pada perkembangan masyarakat tersebut, kiai menjadi salah
satu elit strategi dalam masyarakat karena ketokohannya sebagai figur yang
memunyai pengetahuan luas dan mendalam mengenai ajaran islam.
Maka
tidak mengherankan apabila kiai atau ulama menjadi sumber rujukan dari berbagai
masalah keagamaan mupun masalah sosial politik, tetapi juga hampir dalam
seluruh aspek kehidupan masyarakat. Pada titik inilah kita dapat melihat peran
strategis kiai, terutama dalam aspek sosial politik di indonesia. Dari latar
belakang tersebut, penulis dalam makalah ini akan Menjelaskan Para Ulama Yang
Besar Di Indonesia.
B.
Rumusan
Masalah
Dari
latar belakang di atas dapat di identifikasi rumusan masalah sebagai berikut
1. Apa
peran penting para ulama di indonesia?
2. Siapa
saja tokoh-tokoh para ulama di indonesia?
3. Bagaimana
proses atau cara para ulama mengajarkan islam pada masyarakat?
C.
Tujuan
dan Manfat
Berdasarkan
rumusan masalah di atas maka pembuatan makalah ini bertujuan untuk sebagi
berikut:
1. Mengetahui
peran apa yang di lakukan para ulama untuk masyarakat indonesia
2. Mengetahui
siapa tokoh para ulama tersebut
Manfaat
dalam penulisan makalah ini ialah sebagai berikut :
1. Sebagai
bahan untuk menambah ilmu pengentahuan bagi para pembaca
2. Sebagai
bahan referensi penulis selanjutnya untuk dapat melengkapi kekurangan yang
terdapat dalam makalah ini.
BAB
II
PEMBAHASAN
MENJELASKAN
PARA ULAMA YANG BESAR DI INDONESIA
1. SYAIKH
ABDULLAH AHMAD
Perkembangan
pendidikan islam di indonesia dimulai dengan tahap yang sangat sederhana dan
bersifat lokal. Pendidikan dilaksanakan di lembaga lembaga tradisional surau di
sumatra barat, meunasah di aceh. Setelah itu muncullah lembaga pendidikan
pesantren yang di tandai dengan adanya pondok,masjid,kitab kuning,kiai dan
santri. Abdullah ahmad ialah tokoh pembaharuan pendidikan islam dari sumatra
barat yang pertama kali memperkenalkan sistem madrasah yaitu model pendidikan
agama yang menggunakan kelas dan dilengkai meja,kursi,papan tulis dan ijazah.
Melalui madrasah yang di pimpinnya, umat islam indonesia memiliki kesadaran
tentang pentingnya membangun dunia islam yang lebih maju dan menjanjikan.
A. Biografi
Abdullah Ahmad
Ia lahir di padang panjang pada tahun
1878, ayahnya bernama Ahmad yang dikenal sebagai ulama dan juga pedagang kecil.
Pendidikan Abdullah dimulai dengan mempelajari agama islam pada orang tuanya
sendiri, serta beberapa orang guru yang ada didaerahnya. Kemudian ia dimasukkan
kesekolah kelas dua di padang panjang. Karena ayahnya seorang ulama yang
berpikir modern, ayahnya berharap supaya abdullah ahmad menjadi orang
terpelajar dan memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang agama. Pada usia 17
tahun (1895) ia berangkat ke makkah untuk menunaikan ibadah haji sambil
menuntun ilmu agam islam pada Syaikh Ahmad Khatib, seorang ulama asal
minangkabau yang bermukim di makkah serta kepada beberapa ulama lainnya di
makkah. Abdullah ahmad pergi menuntut ilmu ke makkah karena pada saat itu di
minangkabau belum ada sekolah yang baik sementar di makkah terkenal sebagai
pusat penyebaraan agam islam dan juga di makkah banyak orang dari minangkabu
bermukim disana.[1]
Karena kerja keras dan ketekunannya dalam
mempelajari pengetahuan agama di makkah ia pernah diangkat sebagai asisten dari
Syaikh Ahmad khatib. Selanjutnya pada tahun 1899, Abdullah Ahmad kembali ke
minangkabau dan mulai mengajar di surau jembatan besi padang panjang di
daerahnya ini ia mulai mengajar dengan menggunakan cara trdisional dengan
sistem halaqah.
Sekitar tahun 1906 Abdullah Ahmad pindah
ke padang untuk menggantikan pamannya yang baru meninggal sebagai guru. Pada
tahun selanjutnya Abdullah Ahmad mengubah sistem pengajaran trdisionalnya itu
dengan sistem sekolah agama ( madrasah) yang diberi nama adabiyah school.
Penamaan ini mungkin sekali dimaksudkan sebagai simbol kebangkitan ilmu
pengetahuan dalam posisinya sebagai pilar utama kebangkitan perdaban islam, dan
mungkin pila diilhami oleh hadis Nabi Muhammad Saw.
B. Pemikiran
Pendidikan
Gagasan pemikiran Abdullah Ahmad
dalam bidang pendidikan tersebut antara
lain sebagai berikut. [2]
1. Tentang pemerataan pendidikan , sebagaimana
diketahui bahw beliau hidup pada masa belanda yang menerapkan prinsip memberikaan
perlakuan yang berbeda terhadap rakyat jajahannya,khususnya tentang dalm bidang
pendidikan. Pengajaraan pada zaman belanda juga tidak dapat memberi kepuasan
pada rakyat. Pengajaran pemerintah yang seolah-olah dijadikan contoh dan
umumnya dianggap sebagai usaha untuk menjunjung derajat kita,ternyata tak dapat
memberi penghidupan pada kita, yang sepadan dengan cita-cita sebagai rakyat
yang berusaha akan mendapat keselamatan. Hingga kini nasib kita semata-mata
hanya memberi manfaat kepada bangsa lain. Pengajaran yang diterima dari
pemerintah itu pertama kali sangat kurang, kedua kalinya sangat mengecewakan
sebagai alat pendidikan rakyat.
2. Tentang
kurikulum, pada tahun 1915 sekolah
adabiah diubah menjadi sekolah HIS ( hollandsch inlandsche school ) adabiah, itu lah sekolah HIS yang pertama di
minangkabau yang memasuki pelajaran agama dalam rencana pengajarannya[3].
Kecuali diajarkan pelajaran agama dan Al-Quran sebagai mata pelajaran yang
wajib, di HIS tersebut diajarkan pula pengetahuan umum. Inilah yang membedakan
HIS yang diselenggarakan belanda dan HIS yang diselenggarakan oleh Abdullah
Ahmad. Rencana pelajaran tersebut dijadikan sebagai kerangka kerja sistemtis
dalam suatu kegiatan pengajaran modern. Penerapan konsep tersebut tidak
terlepas dari keterlibatan aktif Abdullah Ahmad sebagai tokoh yang berpengaruh
pada sekolah.
3. Tentang
dana pendidikan, dengan adanya perubahan tersebut sekolah tersebut mendapatkan
subsidi dari pemerintah kolonil berupa
dana dan tenaga guru sebanyak tiga orang belanda, seorang sebagai kepala
sekolah dan dua lagi sebagi guru bisa. Hal tersebut memperlihatkan kecerdasaan
Abdullah yang telah berhasil melakukan dua hal yaitu:
·
Ia telah berhasil menghilangkan
kecurigaan pemerintah belanda terhadap umat islam
·
Ia telah berhasil mengupayakan adanya
dana alternatif bagi pendidikan islam dan dana tersebut justru datang dari
pemerintahan belanda sendiri. [4]
4. Tentang
kemodernan, kemodernan ini antara lain ditandai oleh sikap keterbukaan yang
objektif dan kritis. Madrasah adabiah membolehkan para siswa yang berasal dari
berbagai golongan untuk belajar di lembaga tersebut dengan syarat beragama
islam. Ciri kemodernan lainnya dari sekolah tersebut adalah karena dipilhnya
guru-guru yang berbobot serta dengan bobot para guru yang mengajar di belanda. [5]
5. Tentang
metode pengajaran, metode debating club adalah metode yang diterapkan Abdullah,
metode itu sekarng dikenal dengan nama metode diskusi yang mana metode tersebut
memberikan kesempatan pada murid untuk bertanya dan berdialog secara terbuka
tentang berbagai hal menyangkut masalah agama yang pada saat itu dianggap sangat
tabu dan kurang dianggap beradab apabila dipertanyakan . selanjutnya beliau
juga mengajukan metode pendidikan melalui pemberian hadiah dan hukuman
sebagaimana yang berkembang saat ini.
Selama hidupnya , Abdullah banyak
berkiprah dalam kegiatan pendidikan islam dengan memberikan ide-ide baru serta
mempraktekkannya dalam lembaga pendidikan yang didiriknnya. Ide-ide praksis
pendidikannya itu tampak di pengruhi oleh perkembangan masyrakat pada waktu itu
yaitu masyarakat islam yang tradisional dan terbelakang di satu pihak, dan
kemajuan yang telh dicapai oleh bangsa lain, khususnya penjajah belanda.
2. K.H.
AHMAD DAHLAN
K.H.Ahmad Dahlan
adalah tokoh pembaharuan pendidikan islam dari jawa yang berupaya menjawab
permasalahan umat tersebut, dialah tokoh yang berusaha memasukkan pendidikan
umum kedalam kurikulum madrasah dan memasukkan pendidikan agama kedalam lembaga
pendidikan umum. Melalui pendidikan,
K.H. Ahamad dahlan menginginkan agar umut dan bangsa indonesia memiliki jiwa
kebangsaan dan cinta kepada tanah air. Dialah tokoh yang telah berhasil
mengembangkan dan menyebarluaskan gagasan pendidikan moderen keseluruh pelosok
tanah air melalui organisasi muhammadiyah yang didirikan dan hingga kini makin
menunjukkan eksistensi secara fungsional.
A. Biografi Ahmad Dahlan
(1869-1923)
Ahmad Dahlan dilahirkan
di Yogyakarta pada tahun 1869 M dengan nama kecilnya Muhammad Darwis, putra
dari K.H Abu Bakar Bin Kyai Sulaiman, khatib di Masjid besar (Jami’) kesultanan
Yogyakarta. Ibunya adalah putri Haji Ibrahim, seorang penghulu. Setelah beliau
menamatkan pendidikan dasarnya di suatu Madrasah dalam bidang Nahwu, Fiqih dan
Tafsir di Yogyakarta, beliau pergi ke Makkah pada tahun 1890 dan beliau
menuntut ilmu disana selama satu tahun. Sekitar tahun 1903 beliau mengunjungi
kembali ke Makkah dan kemudian menetap di sana 2 tahun.[6]
Beliau adalah seorang
yang alim luas ilmu pengetahuanya dan tiada jemu-jemunya beliau menambah ilmu
dan pengalamanya. Dimana saja ada kesempatan sambil menambah atau mencocokan
ilmu yang telah diperolehnya. Observation lembaga pernah beliau datangi untuk
mencocokan tentang ilmu hisab. Beliau ada keahlian dalam ilmu itu. Perantauanya
keluar pulau jawa pernah sampai ke Medan. Pondok pesantren yang besar-besar di
Jawa pada waktu itu banyak dikunjungi.[7]
Cita-cita K.H Ahmad
Dahlan sebagai seorang ulama adalah tegas, beliau hendak memperbaiki masyarakat
Indonesia berlandaskan cita-cita agama Islam. Usaha-usahanya ditujukan hidup
beragama, keyakinan beliau ialah bahwa untuk membangun masyarakat bangsa harus
terlebih dahulu dibangun semangat bangsa. Ahmad Dahlan meninggal pada Tahun
1923 M, tanggal 23 Februari dalam usia 55 Tahun dengan meninggalkan sebuah
organisasi Islam yang cukup besar dan di segani karena ketegaranya.[8]
B. Pemikiran Pendidikan
Ahmad Dahlan
Beliau mengatakan,
upaya strategis untuk menyelamatkan umat islam dari berpikir statis menuju
pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Umat islam dididik agar
cerdas, kritis, dan memiliki daya analisis yang tajam dalam membaca dinamika
kehidupan yang akan datang. Adapun kunci bagi kemajuan umat islam adalah
kembali pada Al-Qur’an dan hadits, mengarahkan umat islam pada pemahaman ajaran
islam yang komprehensif dan menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Pendidikan islam
hendaknya menjadi media dan mampu mengembangkan al-ruh dan al-akal. Hal ini
disebabkan di alam ini ada dua dimensi yaitu dimensi fisika dan metafisika.
Manusia adalah integrasi dari dua dimensi yaitu dimensi ruh dan jasad. Maka
aktivitas pendidikan harus mampu mengembangkan dimensi tersebut. Dan perlunya
pengkajian ilmu pengetahuan secara langsung sesuai prinsip-prinsip Al-Qur’an
dan Hadits.
Ahmad Dahlan melihat
bahwa problem epistimologi pendidikan islam tradisional disebabkan karena ideologi
ilmiahnya terbatas pada dimensi religius yang membatasi pada pengkajian
kitab-kitab klasik, khususnya dalam
madzhab syafi’i. Sikap ilmiah yang demikian mengakibatkan umat islam tidak
mampu menganalisa ilmu pengetahuan secara kritis sehingga kurang mampu
berkompetisi secara produktif dan kreatif terhadap perkembangan peradaban
kekinian.[9]
Menurut Ahmad Dahlan,
pendidikan islam hendaknya diarahkan untuk membentuk manusia muslim yang
berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu
keduniaan, serta bersedia berjuang demi kemajuan masyarakatnya. Untuk mencapai
tujuan ini, hendaknya pendidikan islam mengakomodasi berbagai ilmu pengetahuan,
baik umum maupun agama, untuk mempertajam intelektualitas dan memperkokoh
spiritualitas peserta didik. Upaya ini akan terwujud jika proses pendidikan
bersifat integral dan epistimologi. Islam hendaknya dijadikan landasan
metodologis dalam kurikulum dan bentuk pendidikan yang dilaksanakan. Menurut
Ahmad Dahlan, materi pendidikan adalah pengajaran Al-Qur’an dan hadits,
membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, dan menggambar. Sistem pendidikan yang
dipakai beliau adalah klasikal, beliau ingin menggabungkan sistem pendidikan
kolonial Belanda dengan sistem pendidikan tradisional (pesantren) secara integral.
[10]
Materi Al-Qur’an dan
hadits yaitu ibadah, persamaan derajat, fungsi perbuatan manusia dalam
menentukan nasibnya, musyawarah, pembuktian kebenaran Al-Qur’an dan hadits
menurut akal, kerjasama antara agama-kebudayaan, kemajuan peradaban, hukum
kausalitas perubahan, nafsu dan kehendak, demokratisasi dan liberalisasi,
kebebasan berpikir, dinamika kehidupan dan peranannya, dan akhlak. Komitmen
Ahmad Dahlan terhadap pendidikan agama adalah sangat kuat. Maka dari itu,
beliau masuk orgnasisasi Budi Oetomo pada tahun 1909, agar mendapatkan peluang
mengajarkan pendidikan agama kepada para anggotanya. Komitmen terhadap
pendidikan selanjutnya menjadi salah satu ciri khas organisasi yang
didirikannya pada tahun 1912 yaitu Muhammadiyah.[11]
Pandangan Ahmad Dahlan
dalam pendidikan dapat dilihat dalam kegiatan pendidikan yang dilaksanakan oleh
Muhammadiyah. Dalam bidang pendidikan Muhammadiyah melanjutkan model sekolah
yang digabungkan dengan sistem pendidikan gubernemen. Disamping itu,
Muhammadiyah mendirikan sekolah yang agamis yaitu madrasah diniyah di
Minangkabau untuk memperbaiki pengajian Al-Qur’an yang tradisional.
C.
Gerakan Ahmad Dahlan
a.
Pembaharuan di bidang
lembaga pendidikan, yang semula sistem pesantren menjadi sistem sekolah.
b.
Beliau memasukkan
pelajaran umum ke sekolah-sekolah agama atau madrasah.
c. Perubahan pada metode pengajaran sosrogan menjadi metode yang bervariasi.[12]
Pada tanggal 8 Desember
1912, Muhammadiyah mendirikan pondok
Muhammadiyah sebagai sekolah pendidikan guru agama. Turut mempercepat pendirian
sekolah baru dengan model yang baru ini, pada saat yang sama dalam masyarakat
sudah mulai tumbuh kesadaran dan kebutuhan akan ilmu pengetahuan umum dan
kemudian Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah di yogyakarta.[13]
Muhammadiyah berhasil melanjutkan model pembaruan
pendidikan dikarenakan lingkungan sosial yang dihadapi adalah terbatas pada
pegawai, guru maupun pedagang. Kelompok ini banyak menguasai perusahaan
percetakan yang secara ekonomis sangat penting di masyarakat. Oleh karena itu,
Muhammadiyah dengan model pendidikan barat ditambah dengan pendidikan agama,
mendapatkan hasil yang baik dalam kalangan ini. Diantara sekolah-sekolah yang
tertua dan besar yaitu:
a.
Kweekschool Muhammadiyah, di Yogyakarta
b.
Mu’allimin Muhammadiyah, di Solo, Yogyakarta dan Jakarta
c.
Zu’ama/Za’imat di Yogyakarta
d.
Kulliyah Muballigh/Muballigat di Padang Panjang Sumatera Tengah
e.
Tabligh School di Yogyakarta.
3. ABD AL-RA’UF AL-SINKILI
A. Biografi Abd Al-Rauf Al-Sinkili
Syeikh Abd Rauf yang lebih dikenal dengan nama julukan
syah kuala, beliau lahir disingkil diperkirakan sekitar tahun 1615 M. Seperti
biasanya orang islam di waktu kecil mendapat pendidikan pertamanya dari orang
tua nya sendiri, begitu juga dengan Al Singkili. Apalagi ayahnya adalah seorang
ulama yang memiliki dayah sendiri disimpang kanan. Menurut A. Hasjmy setelah
menyelesaikan pelajaran di dayah yang dipimpinnya, orang tuanya Al-singkili
melanjutkan pendidikan pada sebuah dayah tinggi di Barus yang di piumin oleh
hamzah fansuri. Selanjutnya belajar pada syeikh syamsu al-Din al-sumatrani
diperkirakan dayahnya di wilayah pase. [14]Terakhir
beliau belajar di timur tengah,seperti dhuha ( doha ), Qatar, Yaman, Jeddah dan
akhirnya mekkah dan madinah selama 19 tahun. Al singkili merupakan seorang
penulis yang produktif. Kendati pun dia sibuk dengan tugas mufti kerajaan,
tetapi dia sempat menulis beberapa kitab, ada kurang lebih 23 kitab yang di
tulis oleh Al-singkili seperti bidang Fiqh,tafsir,hadits,ilmu kalam dan
tasawuf. [15]
B. Pemikiran Al-Sinkili
Aliran tasauf yang dikembangkan oleh syeh Abd rauf
sepulangnya dari negara arab dalam perkembangannya di indonesia menghadapi dua
kutub aliran tasauf yang berbeda sebagai warisan ulama terdahulu hamzah fansuri,syamsyudin
al sumatrani dan nurudin arraniry, dengan kondisi demikian tarekat syattariah
menjadi penyejuk bagi perbedaan yang tajam antara dua aliran wahdatul wujud dan
syuhuduyah tersebut. Pendekatan yang dilakukan oleh abd rauf adalah mendamaikan
antara paham-paham yang bertentangan, hal itu sejalan dengan kecendrungan
jaringan ulama abad ke 17 M yang berupaya saling mendekatkan antara ulama yang
berorientasi pada syariat dengan para sufi yng berorientasi pada makrifat.[16]
Dari ini ajaran tasawufnya mirip dengan syamsuddin
al-sumatrani dan nuruddin arraniri, yaitu menganut paham satu-satunya wujud
hakiki yakni Allah. Sedangkan alam ciptaannya bukanlah merupakan wujud hakiki
tetapi bayang dari yang hakiki. Abd rauf juga mempunyai pemikiran tentang zikir.
Zikir dalam pandangan Abd rauf merupakan suatu usaha untuk melepaskan diri dari
sifat lalai dan lupa. Dengan zikir inilah hati selalu ingat Allah. Tujuan zikir
ialah mencapai fana ( tidak ada wujud selain wujud Allah ), berarti wujud hati
yang berzikir dekat dengan wujudnya. Ajaran tasawuf abd rauf yang lain adalh
bertalian dengan martabat perwujudan [17].
Menurutnya ada tiga martabat perwujudan yaitu:
·
Martabat ahadiyah atau
la ta’ayyun, yang mana alam pada waktu itu masih merupakan hakikat ghaib yang
masih berada didalam ilmu tuhan.
·
Martabat wahdah atau
ta’ayyun awwal yang potensi bagi terciptanya alam.
·
Martabat wahdiyyah atau
ta’ayyun tsani dan dari sini lah alam tercipta.
Rekonsiliasi syarih dan tasawuh yang di kembangkan
oleh abd rauf dapat diamati dari tiga pilar corak pemikirannya dalam bidang
tasawuf, ketiga pokok pemikiran tersebut adalah sebagai berikut :
·
Ketuhanan dan hubungan
dengan alam, syeh Abd rauf menganut paham satu-satunya yang wujud hakiki adalah
Allah, Alam ciptaannya adalah wujud bayangan nya yakni bayangan dari wujud
hakiki.
·
Insan kamil adalah
sosok manusia ideal. Abd rauf memahami insan kamil sebagai kombinasi dari paham
al-Ghazali, al-Hallaj dan paham martabat tujuan yng telah ditulis oleh syeh
Abdullah al-Burhanpuro dalam kitab Tuhfah almursalah ila ruhin nabi.
·
Thariqat ( jalan kepada
Allah ), kecendrungan rekonsilasi yang dilakukan oleh syeh Abd rauf sangat
kentara sekali ketika ia menjelaskan tauhid dan zikir sejalan dengan kepatuhan
total pada syariat.
Abd rauf
berpendapat bahwa zikir penting bagi orang yang menempuh jalan tasawuf diman
dasar tsawuf adalh dzikir yang berfungsi mendisiplinkn kerohanian islam. Dzikir menurut beliau bukanlah membayangkan
kehadiran gambar tuhan melainkan melatih memusatkan diri. Disamping itu Abd
rauf berpendapat bahwa tauhid adalah pusat dari ajaran tasawuh. [18]
Sepanjang
karirnya, beliau banyak dapat perlindungan dari para sultanah, dia menulis
sekitar 22 karya yang membahas tentang fikih,tafsir,kalam,dan tasawuf. Dia menulis
dalam bahasa Melayu maupun Arab,beliau lebih suka menulis dalam bahasa Arab
dari pada bahasa melayu sebab dia menyadari bahasa melayu tidak terlalu bagus
karna kepergiannya ke Arab. Karna itu beliau di bantu oleh dua guru bahasa
melayu untuk menulis karya-karya nya dalam bahasa melayu sumatera. Dalam
tulisannya menunjukkan bahwa perhatian utamanya adalah rekonsilasi antara
syariat dan tasawuf. Karna itu lebih menuju ke arah zhahir dan bathin.[19]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan makalah ini bisa
dapat kita simpulkan yaitu Perkembangan pendidikan islam di
indonesia dimulai dengan tahap yang sangat sederhana dan bersifat lokal.
Pendidikan dilaksanakan di lembaga lembaga tradisional surau di sumatra barat,
meunasah di aceh. Disini menjelskan tentang para ulama ulama besar yang ada di
indonesia seperti Abdullah Ahmad, Ahmad dahlan dan Abd rauf,. Seperti yang kita
ketahui Abdullah Ahmad dan Ahmad dahlan berperan penting dalam pembahruan
tentang pendidikn islam sedangkan Abd Rauf sangat berperan penting tentang
pemikiran tasawuf. Yang mana tokoh tersebut berperan penting dalam kemajuan
umat islam yang ada di indonesi.
DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, tokoh tokoh pembaharuan
pendidikan islam di indonesia, ( jakarta:raja grafindo persada,2005).
Azyumardi Azra, Jaringan
Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (jakarta:
kencana prenda media group,2013).
Hasbi Amiruddin, perjuangan ulama
aceh di tengah konflik, ( yogyakarta : ceninnets press, 2004 ).
Abu su’ud, islamologi, ( jakarta:
rineka cipta, 2003)
Sholechul aziz, sejarah lengkap
pahlawan indonesia, ( jakarta: kunci kom, 2003)
.
[1]Abuddin nata, tokoh tokoh pembaharuan
pendidikan islam di indonesia,2005,hal 11
[2]
Abuddin nata,tokoh-tokoh pembaharuan pendidikan islam di indonesia,2005,hal 15
[3]
Ibid hal 19
[4]
Ibid hal 20
[5]
Ibid hal 21
[6]Sholechul
aziz,sejarah lengkap pahlawan indonesia, 2005,hal 22
[7]
Abu su’ud,islamologi,2003,hal 250
[8]
Ibid 252
[9]Ibid
253
[10]Ibid
255
[11]Ibid
256
[12]Ibid
257
[13]Abuddin
nata,tokoh-tokoh pembaharuan pendidikan islam di indonesia,2005,hal 104
[14]Hasbi
amiruddin,perjuangan ulama aceh ditengah konflik, 2004,hal 29
[15]
Ibid 30
[16]Ibid
31
[17]
Ibid hal 33
[18]
Ibid hal 34
[19]Azyumardi
azhar, jaringan ulama timur tengah dan kepulauan nusantara abad XVII dan XVII,
2013, hal 255
No comments:
Post a Comment